|
Penggalan perjalanan hidup dan renungan saya - Dewi H. Susilatuti, muslimah, ibu, istri, WNI di Amerika, Ph.D., dosen. Fiksi, non-fiksi, hibrid fiksi dan non-fiksi. Anak saya Fahmi termasuk pendiam. Barangkali saya diberi anak seperti Fahmi karena Allah tahu bahwa saya tidak bakal bisa mengasuh anak yang lasak, yang banyak bicara, yang banyak membantah. Seperti anak-anak lainnya, Fahmi harus melewati berbagai krisis. Karena waktu itu kami masih relatif muda, "jam terbang" sebagai orang tua masih terbatas, saya dan Pak Boss (aka suami) suka stress. Ini anak kok cengeng sekali sih, sedikit-sedikit menangis. Dia kok tidak bisa mengekspresikan diri dengan kata-kata, ya, mewek melulu.
Kalau di bawa ke tempat baru, dia seperti permen karet yang menempel di badan saya, tidak mau berbaur dengan anak-anak lain. Kadang-kadang saya merasa hampir putus asa. Saya bukan ibu yang baik, bisik hati saya, saya tidak bisa membesarkan anak yang "normal", yang bertingkah "lumrah" seperti anak-anak orang lain. "Jangan terlalu khawatir", kata guru anak saya. Kebiasaan menangis ini nanti lama-lama hilang sendiri. Yeah right, pikir saya pesimis. Ternyata dua tahun kemudian si tukang nangis memutuskan sendiri untuk pensiun dari pekerjaan menangis rutin. Terjadinya begitu saja, saya dan Pak Boss sampai tidak sadar. Suatu hari kami duduk-duduk, dan Pak Boss tiba-tiba bilang: "Eh, Fahmi sudah agak lama tidak menangis, ya?" Hidup jadi sedikit lebih ceria. Laporan tentang anak saya dari berbagai pihak --orangtua, teman-temannya, guru di public school, di Islamic week end school, di summer program, rata-rata positif. Kata-kata yang biasa dipakai untuk menggambarkan Fahmi adalah "a sweet kid," atau "a sweetheart." Life is not a bed of roses, kata orang. Tentu saja kami masih harus bergulat dengan masalah-masalah kecil, misalnya ketidak-mampuan Fahmi untuk stand up for himself. Kalau ada temannya yang memukul dia, dia tidak mau melawan balik. Tapi kalau kabar buruk dan kabar baik tentang anak kami ditimbang, kayaknya kabar baiknya lebih berat dari kabar jeleknya. Ketika kami pergi ke muktamar IMSA untuk pertama kalinya di tahun 1999, Fahmi dapat award untuk "the most well-behaved child." Tahun berikutnya, ketika Fahmi menang lomba Islamic quiz di summer schoolnya, saya mengirim e-mail ke kepala sekolahnya untuk mengucapkan terima kasih. "The teachers at the Islamic summer school are very pleased with Fahmi," tulis brother yang mengepalai summer school, "he is polite, well-behaved, and intelligent." Subhanallah, glory be to Allah! Hidup berjalan terus. Saya tidak tahu kemana perginya sang waktu, tapi suatu hari saya lihat baju-baju Fahmi sudah terlalu kecil untuk dia. Badannya juga semakin tinggi. Sampai suatu ketika saya menelpon rumah dari kantor untuk memberi tahu bahwa saya akan pulang terlambat karena mau lembur sebentar. "Hallo," seorang laki-laki berbicara di seberang sana. Suaranya dalam dan tanpa aksen. Wah, jangan-jangan saya salah sambung, ya? Tapi kayaknya etidak kok. "Fahmi?,"kata saya ragu-ragu. "Oh, assalamualaikum, nda," sambut anak saya. Suaranya masih kedengaran seperti suara laki-laki dewasa. Ya, Allah, sejak kapan suara anak saya berubah? Ternyata yang berubah bukan suaranya saja. Tingkah lakunya juga jadi lain. Saya tidak mengenali anak saya lagi. Barangkali ada makhluk angkasa luar yang menukar anak saya dengan anaknya ketika kami serumah sedang tidur. Tiba-tiba Fahmi yang pendiam jadi gemar bicara. Entah dari mana datangnya kemampuan berbicaranya. Kalau bicara biasa sih saya tidak keberatan. Lha ini bicaranya menentang, mengkritik, sarat dengan muatan sarkasme. Saya tahu kalau dia sedang mengembangkan kemandirian berpikirnya, mewujudkan keakuannya, tapi... hmm...! Doa favorit saya waktu itu adalah "La hawla wala quwatta illah bilah." Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. "Fahmi, coba Fahmi kerja sedikit, biar tahu kalau uang itu tidak tumbuh di pohon". "I already know that money doesn't grow on trees, Nda." "Jadi baby sitter ya, le." Kami suka panggil dia "thole". "Have you heard of male baby sitters? "Okay, how about potong rumput di halaman rumah teman bunda?" "Do you want me to lose my toes?" Dia beberapa kali baca cerita tentang teenagers yang jempol kakinya tersambar lawn mower. Saya geregeten. "Have you ever heard of shoes, Fahmi?" balas saya. "OK, ok..., mungkin saya tidak akan kehilangan jempol kaki, tapi saya bisa saja kena sun stroke," kata Fahmi. Waktu itu kami masih tinggal di Tallahassee, Florida, yang panas. Ada saja alasan dia untuk tidak bekerja. Saya menyerah kalah. Saya merasa sudah berjuang sampai titik air ludah yang penghabisan. Minggu lainnya dia mogok, tidak mau lagi ke Islamic week end school. Lha ini kan tidak benar. Masak ibunya ngajar di week end school, kok anaknya mau drop out? "I just don't see any reason for coming to school if I don't learn anything new," katanya. Sesudah diskusi panjang lebar, akhirnya saya dan Pak Boss setuju dengan pilihan Fahmi. "Karier" Fahmi di Islamic week end school tamat hari itu. Lain hari Fahmi mengamati saya ketika saya memarahi Nusaibah. Hari itu kami pergi ke pertemuan dan entah kenapa, Nusaibah bertingkah menjengkelkan sekali. "You can't leave the room. Think about what you did wrong in that meeting. No toy, no story. That's a pay back for your annoying behavior," kata saya dengan nada tinggi. Rupanya Fahmi tidak bisa menahan diri "Wow, nda, that's some parenting style." Weee lha, ini kan terlalu berani, to, lancang, kata orang Jawa. Punya anak saja belum, kok berani-beraninya mengkritik bundanya. "I will see how you parent your kid, le,"kata saya agak panas. "I just don't see how yelling at her will do any good,' kata Fahmi, "mungkin saja dia tidak tahu salahnya apa." Saya berhenti memunguti mainan Nusaibah. Ya. Mungkin dia tidak tahu salahnya apa. Wah, ternyata makhluk angkasa luar yang satu ini cukup perseptif. Suatu hari kami diajak teman nonton film "Spellbound", film dokumenter tentang "spelling bee". Problemnya, mobil kami yang satu jebol dan Pak Boss ada pertemuan di masjid. Pak Boss memutuskan untuk mengantar saya dan Fahmi ke gedung bioskop, kemudian ke masjid dengan Nusaibah. Untungnya gedung bioskopnya tidak jauh dari apartment kami. Pulangnya kami berjalan kaki, walaupun di jalan itu tidak ada trotoir. Saya sedang membicarakan bagian film yang menarik, ketika Fahmi menengok ke belakang dan bilang, "awas ada mobil." Ketika mobil lewat,Fahmi melingkarkan tangannya dipinggang saya dengan gerakan protektif.Saya tertegun. Apa yang terjadi dengan makhluk angkasa luar yang biasanya bikin saya pusing ini? Belum selesai saya berfikir, tiba-tiba Fahmi mendorong badan saya dengan lembut, menjauhi jalan. Dia yang jalan di dekat jalan kecil itu. "Here we go. You stay away from the side of the road, so no car will hit you". Saya merasa dalam sedetik peran kami berubah 360 derajat. Tiba-tiba dia jadi pelindung saya, dan dia khawatir atas keselamatan saya. Saya pandangi anak saya. Dia sedang berpaling ke belakang, memastikan kalau tidak ada mobil yang akan menubruk bundanya. Kerongkongan saya tersekat. Ketika mata saya terasa panas, saya memalingkan wajah saya, pura-pura melihat kembang di dekat kaki saya. (Dewi H. Susilatuti,PhD) |