|
So You Never Ever...Ever Lie! |
|
|
|
Written by Mamiek Syamil
|
|
Monday, 11 December 2006 |
"Did you put any milk on this donnut, Mommy?" tanya Jasmine.
"Yes, I did...soy milk. But don't tell Zahra about it, OK?". Saya khawatir Zahra mogok makan donat bikinan saya hanya karena saya beri soy milk di dalamnya. Zahra sebel banget dengan soy milk. Kalau minta susu dia akan bilang ,"I want cow milk!". Begitu susu diulurkan kehadapannya dia akan tanya dulu ,"Is this soy milk or cow milk?".
"OK," jawab Jasmine ,"I,ll say 'mommy put cow milk in it'".
"No...just don't say anything. If you say like that, that means you lie."
Jasmine tercenung. Uh-oh...! Tampak jelas di wajahnya ada sebuah tanda tanya besar yang akan meledak.
"So...you never ever...ever...ever...ever lie???!"
Saya terdiam lama. Jasmine menatap saya menunggu jawaban. Saya benar-benar belingsatan. What? I'm not an angel. Of course sometimes I lie. Misalnya saat seorang teman bertanya ,"Bagus kan baju ini kupakai?". Masa iya saya bilang ,"Kamu jadi mirip pemain sirkus". You know...sometimes it's not nice being honest. Tapi tidak mungkin memberi contoh seperti itu pada Jasmine. Lie is a lie. Titik!
Suatu ketika waktu Jasmine umur 5 tahun, saya ajak dia ke kolam renang. Di kolam renang kami berpapasan dengan seorang wanita yang gemuuuuuk...sekali. Hati saya dag-dig-dig. Jangan-jangan Jasmine...
"WOW! Soooooo biiiiigggg!" teriak Jasmine. Gelap langsung pandangan saya!
Dalam perjalan pulang saya bilang ke Jasmine ,"Next time don't say 'sooo biig', OK?".
"OK," jawabnya kalem ,"So I have to say 'soooo smaalll!' ?"
"No! Just don't say anything!" ujar saya gusar.
Itu cerita masa lalu. Sekarang Jasmine 7 tahun. Saya tidak bisa bilang "kamu tidak boleh begini dan begitu" tanpa alasan yang jelas. Otak saya benar-benar saya acak-acak untuk mencari jawaban yang genius. Saya jadi inget detektif Hercule Poirot yang suka memaksa sel-sel kelabu di otaknya untuk bekerja. Akhirnya...
"Well...sometimes Ibu do lie," sebuah pengakuan yang sangat berat. Jasmine nampak kaget.
"But only for good reason," buru-buru saya menambahkan." Like when a criminal ask to Ibu ,'Do you have money?', Ibu will say ,'No!' eventhough Ibu have the money. That's a lie, but that's OK so the criminal won't harm Ibu". Fiuh...! Isn't that a genius? No, of course. Tapi paling tidak Jasmine terlihat lega bahwa ibunya ini tidak pernah melakukan "bad lie". Tiba-tiba saya merasa berhutang pada Jasmine. Sebuah hutang yang harus saya bayar berupa bukti bahwa saya harus menjadi orang tua yang baik, yang bisa memberi contoh yang baik dan I won't do a lie, insha Allah. Sehingga sepuluh atau duapuluh tahun lagi kalau dia bertanya "So you never ever lie?"...I don't have to lie. (Mamiek Syamil)
|