Wednesday, 07 January 2009
Lost Password?
No account yet? Register
Home border Articles border Search border Mail
Google
 
Home
Articles
News
Kidz Songs
Story Books
Poems
Duas
Useful Links
About Me
Sitemap
Books
Craft
Science
Inspiring Stories
Don't Push Me Too Hard Print E-mail
Written by Mamiek Syamil   
Tuesday, 19 December 2006

Hampir pukul sepuluh malam. Saya hampiri tempat tidur Jasmine. Kosong.

"Jasmine! How many times Ibu told you, go to sleep!" teriak saya. Saya telah mengingatkannya soal jam tidur sejak lebih dari sejam yang lalu, berulang-ulang. Saya tahu dia masih berkeliaran somewhere di dalam rumah. Sungguh saya capek. Ini adalah pertempuran rutin tiap malam. Saya bosan. Tapi tidak Jasmine. Seolah dia selalu ingin menguji batas kesabaran saya. Atau mungkin batas kesabaran saya yang terlalu sempit?
"I'm not sleepy! I'm not done yet!" teriaknya dari ruang sebelah. Menggambar! Duh, kalau di kepalanya sedang tercetus keinginan untuk menggambar, maka tidak peduli tengah malam atau pagi buta, dia akan asyik di meja itu dengan kertas dan pensilnya.

"No! You must sleep now, or I'll send you outside, sleep with the frog!" darah saya sudah mencapai ubun-ubun. Dia berlari menuju kamarnya sambil menangis. Saya menghela nafas. Saya tahu bahwa saya harus menurunkan titik didih yang ada di kepala. Toh pertempuran dengan cara ini tak pernah berhasil.

"Why are you crying?" tanya saya, kali ini dengan nada yang melunak.

"Because everybody is pushing too hard on me!". DARRR! Sebuah petasan seolah meledak di kepala saya. Saya mencoba menguasai diri, dan mencoba menguras seluruh kemampuan, kearifan dan kedalaman wawasan yang saya punyai. Bukankah ini bukan yang pertama kali Jasmine "menantang" saya dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan?

"No, honey. You're pushing too hard on yourself". Saya mencoba mencari kata yang tepat. Dia menguap lebar.

"See...you're sleepy, that means your body need a rest. If you don't sleep, you're pushing too hard on yourself. Let your body get rest, so your body will be happy".  Dia terdiam dibalik selimutnya. Saya tiduran di dekatnya. Sejenak kemudian dia sudah terlelap, meninggalkan saya yang masih bergulat dengan pernyataan Jasmine barusan. Do we really push her too hard?? Tidak jelas apakah dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu, atau asbun, asal bunyi. Biasanya setiap kali dia mendengar kata atau kalimat baru yang menarik, dia akan memakainya, tanpa peduli tepat atau tidak (waktu saya tanya mengapa peanut butternya tidak dimakan, dia bilang ,"Because it taste like manure"....well...it's spring time, everybody speaks manure!).

Saya mencoba menggali apa saja yang telah kami harapkan (atau kami "tuntut"?) agar Jasmine melakukannya. Yang teringat adalah : tidur sebelum jam 9 malam, bangun pagi, sikat gigi, be nice at school, share mainan dengan adiknya, membersihkan dirinya sendiri setelah pee atau poop, mandi, makan makanan yang bergizi, belajar mengaji, belajar sholat, pergi ke Saturday School di masjid selama 2 jam, tidak terlalu banyak nonton TV, tidak terlalu lama di depan komputer, membuang sampah pada tempatnya, mengembalikan piring kotor ke dapur, tidak lupa menutup pintu depan, tidak membuang-buang makanan, membereskan sebagian mainannya, mengganti baju setelah baju itu sangat kotor dan dipakai dua hari berturut-turut meskipun dia sangat menyukainya.

Saya bertanya kepada diri sendiri, adakah diantara daftar itu yang semestinya saya hapuskan? Yang semestinya tidak dibebankan kepada anak seusia Jasmine? Saya mencoba menggali ingatan saya lebih dalam, adakah yang terlewat dari daftar itu yang sekiranya sangat memberatkan Jasmine. Saya tidak menemukan jawabnya bahkan hingga keesokan harinya. Waktu saya kemukakan hal itu pada suami saya, bapaknya Jasmine hanya berguman ,"Kasihan dia". Ya, seandainya benar dia kami push, alangkah tidak bijaksananya kami sebagai orang tua. Alangkah kasihannya dia. Tetapi benarkah kami telah telah bertindak tidak bijaksana? Sampai saat ini kami masih bertanya-tanya. Namun satu hal yang membuat saya tidak terlalu cemas : Jasmine sepertinya telah lupa dengan pernyataanya di malam itu. Kalau tidak, saya percaya seperti yang sudah-sudah, dia akan mengucapkannya 100 kali per menit.
 
Latest Articles
 
 
© 2009 Betterkidz.com Better Kids Guide