Sunday, 01 August 2010
Lost Password?
No account yet? Register
Home border Articles border Search border Mail
Google
 
Home
Articles
News
Kidz Songs
Story Books
Poems
Duas
Useful Links
About Me
Sitemap
Books
Craft
Science
Inspiring Stories
Bunga Kehidupan Print E-mail
Written by Meidya Derni   
Monday, 11 December 2006

How does your garden grow? Itulah tema pementasan hari ini. Yang akan dipentaskan anak-anak kelas satu, E.R.Dickson Elementary School.  Termasuk putriku, yang terpilih untuk berperan menjadi rabbit.

 

Sudah dua minggu bibir munggilnya  mengulang-ulang barisan kalimat yang sama. “We’re lucky to have a gardener. Who appreciates their blooms! He likes the way they smell so nice, like natural perfume!”

”Lets go Bunda! Hurry up!” Aku berlari mengejar  gadis kecil yang berusia 6 tahun, yang berlari dengaan gesit menuruni tangga. Ia begitu bersemangat. Dengan senyum yang tak pernah hilang di bibirnya, binar bahagia dimatanya.

”This way, bunda!”  Ia membukakan pintu kafetaria  untukku. Di dalamnya anak-anak yang berpakaian kaos berwarna hijau dengan celana jean memenuhi ruangan. Mereka berteriak, berlari, tertawa. Menyapa dan berpelukan.  Seakan baru  bertemu teman yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Padahal baru 3 jam mereka berpisah!

Warna putih pakaian yang dikenakan putriku tampak mencolok diantara anak-anak yang berpakaian hijau.
”Bila, why you are wearing white shirt!” Seorang anak kecil menghampiri putriku.
”Because I will be a rabbit.”
”Oh…, yes!  You are lucky! Only 3 kids from our class.”

Aku hanya mendengarkan percakapan mereka. Walau dalam hati bertanya. Mengapa anakku yang dipilih. Bagaimana kalau ia lupa dialognya? Bagaimana kalau dia mogok bicara. Bagaimana kalau ia demam panggung? Lalu menangis diatas panggung. Bukankah itu akan menyakiti hatinya?

”Look! Mrs. Carlson is coming!”
Anak-anak itu berlari menghampiri seorang wanita yang berjalan dengan senyuman. Menyapa anak-anak tersebut satu persatu. Dengan pujian yang membesarkan hati.
”You look great!”
”You look cute! “
”Wow, that is pretty!”
”I like your t-shirt!”
”Hi, honey!”

Tanpa diperintah mereka berjalan membututi gurunya. Menuju meja panjang, berderet yang memenuhi kafetaria. Topi-topi berbentuk pohon, bunga dibagikan. Dengan tertawa mereka mengenakannya.  Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah cerah mereka. Wajah polos, tanpa beban. Padahal 1 jam lagi mereka akan menjadi pusat perhatian. Beratus-ratus pasang mata akan menatap tajam pada mereka.

”I am yellow flower. I am blue. I am orange. I am purple. I am  a tree.“  Teriak mereka memenuhi ruangan. Aku berjalan menuju ruang olahraga. Meninggalkan mereka yang telah ditemani oleh guru-guru kelas satu. Berjalan menuju gymnasium, tempat pementasan berlangsung. Ada gundah di hati yang menyertai langkah kaki. Apa yang akan terjadi di atas panggung nanti?

Aku duduk disamping suami yang memangku putraku.
”Bagaimana jika Bila lupa?” Aku bertanya pada suami yang sibuk dengan kameranya.
”Huss.. ., istiqfar! Beri dia dukungan. Tampil di panggung itu tidak mudah. Tetapi jangan patah  semanggat.”  Suamiku mengingatkanku. Beliau mengerti kegundahan hati.

Menit demi menit berlalu. Pembukaan acara, sambutan basa-basi tak kuasa menghapus galau di hati. Gadis kecilku. Aku tahu ini bukan pertama kalinya dia tampil di atas panggung. Saat TK, dia juga tampil bersama. Menyanyi dihadapan ratusan manusia. Atau saat dia harus tampil diatas pentas untuk kenaikan tingkat di program martial art.

Tetapi itu berbeda! Tidak ada kalimat yang harus di ucapkan sendiri di depan microphone. Padahal anakku tidak suka berbicara di hadapan orang yang baru di kenalnya. Diam membisu.  Sampai-sampai orang sering mengira dia bisu. Dia tidak suka membalas salam, malah menundukkan kepala dalam-dalam. Lalu dia berlindung di balik tubuhku.

Sering aku bertanya kepada gurunya. Bagaimana dia di kelas. Apakah dia mau bicara? Apakah dia punya teman? Apakah dia mau tampil di muka kelas. Apakah dia mau menjawab pertanyaan? Kini dia terpilih untuk tampil berbicara di atas panggung. Salah pilihkah?

Pukul 7.00 pm, satu persatu anak menuju pangung yang telah dihias dengan bunga-bunga kertas. Pada kelopaknya terdapat photo-photo anak anak yang akan pentas. Anak-anak yang berpakaian kaos hijau dengan topi-topi menyerupai pohon dan bunga berjejer rapi diatas tangga-tanga yang tersusun.  Mereka akan bernyanyi bersama-sama.

Selanjutnya  anak-anak kecil yang memakai kostum mulai menaiki panggung. Gardener. Potato. Bee. Rabbit.

Gadisku kini di atas panggung. Aku melambaikan  tangan padanya. Ia tersipu malu-malu. Matanya menatap penonton yang bergemuruh, antusias memberikan tepukan. Anak-anak kecil itu sadar bahwa mereka sedang menjadi bintang. Ada yang menunduk. Ada yang melotot. Ada yang tersenyum kecil. Ada yang pamer gigi.

Seketika ruangan sunyi, saat Mrs. Amy Deas mengangkat tangannya. Memberikan aba-aba kepada bintang di atas panggung untuk bersiap bernyanyi.  Planting Seeds, judul lagu pembuka. Suara anak-anak yang bening dengan irama ceria memenuhi ruangan. Mempesona siapa saja yang mendengarnya.

Satu per satu anak-anak yang mendapat tugas khusus maju ke depan. Mengucapkan dialog yang telah mereka hafalkan, termasuk gadisku. Dengan tersenyum dia tampil di depan microphone. Mengucapkan dialog dengan jelas dan lancar! Ternyata dugaanku salah! Anakku berani tampil di atas panggung. Dengan penuh percaya diri. Gurunya tidak salah memilih.

Setiap anak adalah bunga. Suatu saat mereka akan bermekaran. Satu persatu.  Ada yang cepat. Ada yang butuh waktu. Demikian nasehat Mrs. Ford, guru TK anakku padaku dulu.  Saat aku menyampaikan gundah di hati.  Dan kini aku melihat kuncup bungaku sedang mekar.

Bunga-bunga itu kini hadir di hadapanku. Beraneka macam. Ada yang malu-malu. Ada yang ceria. Ada yang senyam senyum.  Ada yang berdiri terpaku. Melotot dengan tubuh gemetar.  Yang membuat Mrs. Carlson harus merayap perlahan ke atas panggung. Tanpa mencuri perhatian. Membawa pria kecil itu untuk turun.

Gemuruh tepuk tangan dari penonton membahana.  Memberikan pujian pada pementasan malam itu. Penonton yeng terdiri dari orangtua dan keluarga murid-murid puas dengan sajian malam itu. Terpesona dengan penampilan anak-anak itu.

Mereka adalah bunga-bunga kehidupan yang sedang bermekaran. Yang membuat gardener harus terus bekerja. Karena work is never done! Menyebar benih. Memupuk. Menyirami. Menjaga dari serangan weed yang ganas. Tumbuh cepat dan subur. Mematikan bunga-bunga.

Aku beranjak pergi, sambil membaca secarik kertas yang menempel dengan sebungkus bibit bunga.

Use these seeds to remember our main character Herbs word:
Every plant is important to me
To make this a beautiful sport
And every child is important you see,
Each one a forget me not!
Thank you for letting us help your children grow! The first grade teachers

Mobile, 13 April 2006
Meidya Derni ( ibu dari 2 orang anak)

 
Latest Articles
 
 
© 2010 Betterkidz.com Better Kids Guide