|
Berteriak v.s. Pelukan Hangat |
|
|
|
Written by Lita Edia
|
|
Tuesday, 12 December 2006 |
Akmal, anakku sekarang berusia 4 tahun 8 bulan, akhir-akhir ini sering ngambek. Ngambeknya bukan ngambek seperti biasa. Sekarang ngambeknya di tambah dengan perilaku agresi (baik dengan menggunakan fisiknya ataupun kata-kata).
Aku sebagai ibunya sangat sedih dan bingung sekali. Sedih karena sebelumnya dia adalah anak yang sangat manis, tidak terbayanglah dia akan seperti itu. Bingung karena rasanya sudah berusaha tapi belum ada hasilnya. Setiap saat yang ada adalah aku terpancing untuk membalas perilaku agresinya. Yang paling sering adalah dia berteriak, aku pun tidak mau kalah, teriak juga. Hasilnya: teriakan dan perilaku agresi anakku semakin memuncak.
Suatu hari suamiku pulang dan bercerita tentang bagaimana seorang ibu,yang memiliki 13 anak, membangun 'touch' dengan anak. Tipsnya sederhana: Mencium anak.
Suamiku teringat kalau sudah lama sekali aku kurang membangun kehangatan dengan anak. Akupun menjadi tersadarkan kalau kehangatan antara aku dan akmal, putraku, menurun drastis sejak ia memiliki adik. Menyadari hal itu, ingin rasanya segera membangun kehangatan itu, tapi ternyata tidak mudah. Seribu alasan bisa kukatakan, kenapa menjadi tidak mudah.
Namun akhirnya karena situasi semakin sulit dan semakin menyedihkan, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi faktor-faktor penghambat. Setiap kali dia menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan, kupeluk ia dan kucium ia......ajaib! ia terdiam. Kurefleksikan apa yang ia rasakan, kuajak bicara dari hati ke hati. Alhamdulillah, Berhasil! Tak ada lagi teriakan berbalas teriakan, yang ada sekarang teriakan berbalas pelukan dan ciuman sayang. Hasilnya: perilaku yang manis. (Lita Edia)
|